Skip to content


Tim dari Sistem Komputer Raih Pengahargaan Juara Favorit di Pekan Ilmiah Mahasiwa Nasional (PIMNAS) 25

PIMNAS ke 25, yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sejak 9 Juli hingga 13 Juli, merupakan salah satu event terbesar dan bergengsi bagi mahasiswa Indonesia. Event ini merupakan wujud apresiasi dari DIKTI bagi empat ratus tim terbaik yang sebelumnya telah melalui seleksi ketat di Program Kreativitas Mahasiswa 2011 (mengalahkan 45000 tim lain).

Keempat ratus tim yang mengikuti PIMNAS tersebut terbagi dalam lima kategori, yaitu penelitian, kewirausahaan, pengabdian masyarakat, penerapan teknologi, karsa cipta, dan gagasan tertulis. Disini, keempat ratus tim tersebut mempresentasikan hasil program kreativitasnya di depan para akademisi dan pakar di masing-masing bidang.

Tim dari Jurusan Sistem Komputer UNDIP, yang membuat Program Kreativitas Mahasiswa berupa media belajar proses pembuatan batik berbasis augmented reality, mendapat kesempatan untuk mempresentasikannya di PIMNAS 25. Tim ini terdiri dari Budi Setyawan, Fatima Setyani, Fajaryan Wijananto, dan Nur Setyo Permatasari, dibawah bimbingan Kurniawan Teguh Martono, ST, MT. Masuk dalam kategori penerapan teknologi ruang 3, bersama tim lain yang antara lain berasal dari UGM, IPB, ITS, UB, Unej, Polines, UDINUS, dan UNHAS, tim ini berhasil memikat para juri (klasifikator) yang terdiri dari Dr.rer.nat Ahmad Saufi (Kemenristek), Prof. Tirza Hanum (UNILA), dan Prof. Siti Herlinda (UNSRI). Kategori penerapan teknologi merupakan kategori bagi Program Kreativitas Mahasiswa yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan UKM (atau masyarakat produktif) dengan memanfaatkan teknologi.

Selama presentasi, tim ini menguraikan tentang permasalahan dari mitra, yaitu Museum Batik Pekalongan, yang tidak dapat menyediakan media belajar yang bersifat edutainment dan interaktif. Solusi yang ditawarkan adalah berupa media belajar berbasis augmented reality, yaitu aplikasi komputer yang dapat menampilkan animasi komputer menyatu dengan image yang ditangkap webcam. Tim ini juga menguraikan impact bagi mitra setelah adanya media belajar ini, yaitu bertambahnya pengunjung (yang berimplikasi pada pendapat Museum Batik). Selain itu, dijelaskan pula efektivitas media belajar ini, yang menjadikan pengunjung lebih memahami proses pembuatan batik. Sehingga, kreativitas tim ini dalam menerapkan teknologi benar-benar terbukti menyelesaikan masalah mitra, bahkan ikut berperan juga dalam upaya pelestarian kebudayaan batik.

Saat sesi tanya jawab, para juri bahkan tidak sabar untuk segera melihat demo media belajar berbasis augmented reality ini. Di sela-sela demo,juri meminta tim ini untuk memperlihatkan media belajar tersebut di meja juri, karena penasaran buku yang dapat menampilkan animasi (bukan gambar diam) proses pembuatan batik di monitor komputer. Pertanyaan yang diajukan setelah demo juga berkisar pada teknik pembuatan media belajar augmented reality, yang tampaknya merupakan sesuatu yang benar-benar baru bagi para juri.

Saat upacara penutupan, tim dari Jurusan Sistem Komputer UNDIP ini mendapat penghargaan presentasi favorit, untuk kategori penerapan teknologi ruang 3. Sementara presentasi yang mendapat penghargaan setara emas diberikan kepada tim dari IPB, yang membuat mesin pencetak opak otomatis.

Posted in Kemahasiswaan.